Google+ Badge

Minggu, 21 September 2014

Kisah Kereta dan Abang Angkot (KK dan AA)

Pujianku di Uji oleh Human Error dan Sistem.

Aku baru dua kali naik kereta dari Sukabumi Bogor Depok (UI), Sejak tahun 2011 ada urusan rutin ke Sukabumi tepatnya ke Parungkuda. Dalam perjalanan Jakarta-Sukabumi yang pasti macet saya melihat Rel Kereta dengan Stasiunnya yang masih aktif di Parungkuda lalu saya tanya pada penduduk setempat katanya ada aktivitas kereta  pagi dan sore (sayang waktu itu jadwalnya tidak fleksibel) . Aku berkeinginan sekali kalau ke/dari Sukabumi naik kereta karena jalur Bus demikian padat bahkan pada waktu itu jalannya berlubang-lubang yang tentunya menambah alasan untuk bermacet_ria. Alhamdulillah tidak lama berselang kereta Rute Bogor Sukabumi dibenahi. 

Pertama naik pada Juli 2014  dari Parungkuda (Sukabumi) ke Paledang (Bogor) dilanjutkan lagi dengan jalan kaki ke Stasiun Bogor naik kereta arah stasiun UI Depok, Sumpah ! (lebai mungkin) aku terkaget kaget karena baru melihat Stasiun Bogor dengan wajah dan sistem yang baru, juga baru kali itu melihat di Indonesia BUMN melayani orang banyak dari semua lapisan masyarakat demikian teratur dapat dilakukan, karena kecil kemungkinan penumpang gelap ikut naik kereta. Dengan segala pujian dalam hati aku lontarkan bahwa Komuter Line telah memberikan pelayanan yang baik dengan tarif yang relatif murah tapi layanan prima. Aku berseloroh bahwa dengan managemen baru Copet Profesional dan Copet berseragam (kondektur) kehilangan mata pencahariannya, kereta lebih terawat dan tidak ada lagi rombongan penguasa gerbong yang berperilaku tidak pantas didalam gerbong seperti berjudi (menurut cerita orang) dan pria pria berperilaku sex menyimpang dapat ditekan dengan adanya gerbong khusus wanita.

Kali yang kedua aku naik kereta dari Parungkuda ke Paledang pada tanggal 21 September 2014, jadwal pagi naik pukul 6 tiba pukul 7. Lalu bergegas menuju Stasiun Bogor, istriku seperti biasa antri tiket. (dari sini kenapa cerita ini disampaikan). Setelah mendapat kartu, istri saya ngedumel/menggerutu ke saya kalau kembaliannya kurang (istri lebih sering naik kereta), Jadi sudah terekam dibenak istri saya kalau ke UI depok Rp.7.500. (Rp.2.500 untuk tarif dan Rp.5.000 jaminan kartu yang ditukar uang sampai di stasiun tujuan). Sa'at itu kita berdua hitungannya pasti Rp.15.000 dengan uang Rp.50.000 tapi dikembalikan hanya Rp.33.000 jadi kurang Rp.2.000
Hari itu Minggu, Distasiun UI Depok sepi penumpang hanya satu-dua orang saja, jadi rasa maluku tidak sampai menyebar kecuali dengan petugas di pintu keluar. Kejadiannya ketika aku mau keluar, pintu otomatis tidak bisa terbuka saudara-saudara ? lalu kita dihampiri petugas, setelah dilihat katanya kurang tarif jadi terkena pinalti, lalu petugas minta struk pembayaran (tidak dilihat dari awal oleh kami). Ternyata pada struk tertera Stasiun Depok dan jumlah pembayaran Rp.14.000 (tambah aneh lagi kan? kurangnya jadi Rp.3.000. ya sudahlah kita yang teledor). Istriku mengatakan bahwa ia menyebut UI Depok mungkin karena ramai di loket yang terdengar Depok. Kalau saja saya melihat struk pembayaran dari awal saya juga bingung sendiri, Turun di Stasiun Depok tidak praktis saya lakukan, karena tujuan selanjutnya yang lebih praktis dan masuk akal kami turunnya di Depok baru, Pondok Cina atau UI Depok biar bisa nyambung ke arah Kp Rambutan. Akhirnya kartu PTKA tidak bisa diuangkan (kalau mau diuangkan urus di Bogor???). Tapi kalau tahu kejadiannya sampai begitu lebih baik turun di Depok lama lalu naik angkot 2 kali. Kita rugi dua kali, pertama uang yang mungkin tidak terlalu materi tapi rugi malu yang seolah olah kami mencuri jarak.     
Pertanyaannya adalah: "Apakah saat diloket, jika kita protes ketidaksesuaian jurusan pada struk pembayaran yang tidak sesuai keinginan dapat dilayani ?"
Kejadian ini menjadi pelajaran buat saya, bahwa tidak boleh mengabaikan sesuatu yang dianggap tidak materi karena dapat mengakibatkan kerugian yang lebih besar dan kerugian moril dihadapan orang yang sebenarnya kita tidak sengaja. 
Kejadian serupa (kesalahan manusia). Setelah meninggalkan Stasiun UI menuju Margonda naiklah kami angkot 112 arah Kp. Rambutan, lewat Akses UI, jl. Raya Bogor sa'at berada didalam angkot (kami didepan bersama supir) ada wanita muda akan naik bertanya (logat jawa Tegal dan sekitarnya) ke sopir "lewat Gandaria-siti ga pak?" jawab sopir "Iya Mbak !" aku tanya ke sopir "Gandaria City yang mana ?" jawab sopir "Yang saya tau sih Gandaria itu ajah" (dalam hati saya bertanya tanya "di jalan Raya Bogor ada Gandaria , tapi Gandaria City yang mana? apa Mall di samping Rumah Sakit Tugu Ibu Ya?" saya tidak lanjutkan karena tengah galau dengan kejadian di stasiun tadi, tapi saya punya firasat bahwa yang dimaksud adalah Gandaria-City Dekat Blok M. Jakarta Selatan. Untuk kesana, dari Margonda ada bus Debora yang rutenya mendekati arah sana). Itulah pengalaman yang saya alami dan lihat sendiri untuk menjadi pelajaran buat saya dan mungkin juga buat pembaca supaya peduli pada hal-hal yang kita anggap sepele agar tidak mengakibatkan ketidaknyamanan bagi kita dan mungkin keselamatan orang lain.                   
Terlepas kejadian tersebut, saya tetap apresiasi terhadap #PTKA yang telah berbenah mengaaktifkan kembali jalur kereta yang sekarat menjadi bergairah kembali (sepenglihatan saya) dan Komuter Line yang terbukti efektif.  

Sabtu, 23 Agustus 2014

BETAWI, JAKARTA, JAKARTE

Orang Betawi, Jakarta, Jakarte
Kira-kira yang pas disebutnye.. orang betawi ape orang jakarta ?, dua duanye boleh, tergantung dimane die mao dipake entu kalimat. Sebutan orang jakarta dipake buat identitas kependudukan, kalu yang disebut betawi, entu yang ada hubungannye ama budaya. Trus gitu tempo dulu, budaya betawi yang pake logat " E " itu cuman sebates  kebayuran lama, rawa belong, kebon jeruk, kemanggisan, slipi, petamburan, tenabang, benhil, kuningan, seputaran buncit raya, kalibata, condet, cawang, kebon nanas, rawamangun, tanjung priuk, kemayoran, cempaka putih, senen, kramat, jatinegara, kebon sirih, pasar baru, dan masih banyak yang laennye. Nah diseputaran atawa yang dipinggiran jakarta namanye kalu orang betawi tengah bilang "betawi ora" yang  logatnye "iya' ". Dengan perkembangan kota yang makin rakus akhirnye orang-orang betawi tengah pade minggir di GUSUR . Nah kalu kita mao peratiin ada bedanye tingkah laku betawi tengah sama betawi ora. Belakangan eni yang banyak kesorot betawi-betawi yang galak-galak, yang laga lagunye udeh kaya jawara. Pelem Si Dul Anak Betawi, bisa ngewakilin gambaran budaya orang betawi, walaupun engga pas betul. Betawi "iye" ama betawi "iya" merupakan proses dari akulturasi budaya dari macem-macem etnis, yang dominan kaya budaya  jawa, sunda, arab, cina, eropa, melayu ditambah lagi pengaruh dari indonesia bagian timur. Jadi engga ada yang namanye asli betawi, kalu mao juga orang-orang keturunan portugis (kampung tugu) yang sejarahnye jelas dari abad ke 16 yang nenek moyangnye becokol disitu. Saya punya pendapat kalu betawi entu adalah "kebudayaan" yang dihasilkan dari proses interaksi budaya macem-macem suku dan bangsa. Wassalam.

SUKU BETAWI

Suku Betawi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Bahasa
Betawi, Indonesia
Agama
Islam dan Kristen (minoritas)
Kelompok etnik terdekat
Banten, Jawa, Sunda, Melayu

Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa pada masa lalu. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Apa yang disebut dengan orang atau suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Bali, Bugis, Makassar, Ambon, dan Melayu serta suku-suku pendatang, seperti Arab, India, Tionghoa, dan Eropa.
Etimologi Betawi
Kata Betawi digunakan untuk menyatakan suku asli yang menghuni Jakarta dan bahasa Melayu Kreol yang digunakannya, dan juga kebudayaan Melayunya. Kata Betawi berasal dari kata "Batavia," yaitu nama lain dari Jakarta pada masa Hindia Belanda, kemudian penggunaan kata Betawi sebagai sebuah suku yang termuda, diawali dengan pendirian sebuah organisasi yang bernama Perkoempoelan Kaoem Betawi yang lahir pada tahun 1923.[1]
Sejarah
Diawali oleh orang Sunda (mayoritas), sebelum abad ke-16 dan masuk ke dalam Kerajaan Tarumanegara serta kemudian Pakuan Pajajaran. Selain orang Sunda, terdapat pula pedagang dan pelaut asing dari pesisir utara Jawa, dari berbagai pulau Indonesia Timur, dari Malaka di semenanjung Malaya, bahkan dari Tiongkok serta Gujarat di India.
Selain itu, perjanjian antara Surawisesa (raja Kerajaan Sunda) dengan bangsa Portugis pada tahun 1512 yang membolehkan Portugis untuk membangun suatu komunitas di Sunda Kalapa mengakibatkan perkawinan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis yang menurunkan darah campuran Portugis. Dari komunitas ini lahir musik keroncong.
Setelah VOC menjadikan Batavia sebagai pusat kegiatan niaganya, Belanda memerlukan banyak tenaga kerja untuk membuka lahan pertanian dan membangun roda perekonomian kota ini. Ketika itu VOC banyak membeli budak dari penguasa Bali, karena saat itu di Bali masih berlangsung praktik perbudakan.[2] Itulah penyebab masih tersisanya kosa kata dan tata bahasa Bali dalam bahasa Betawi kini. Kemajuan perdagangan Batavia menarik berbagai suku bangsa dari penjuru Nusantara hingga Tiongkok, Arab dan India untuk bekerja di kota ini. Pengaruh suku bangsa pendatang asing tampak jelas dalam busana pengantin Betawi yang banyak dipengaruhi unsur Arab dan Tiongkok. Berbagai nama tempat di Jakarta juga menyisakan petunjuk sejarah mengenai datangnya berbagai suku bangsa ke Batavia; Kampung Melayu, Kampung Bali, Kampung Ambon, Kampung Jawa, Kampung Makassar dan Kampung Bugis. Rumah Bugis di bagian utara Jl. Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang dimulai pada tahun 1690. Pada awal abad ke 20 ini masih terdapat beberapa rumah seperti ini di daerah Kota.
Antropolog Universitas Indonesia, Dr. Yasmine Zaki Shahab, MA memperkirakan, etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893. Perkiraan ini didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Castle. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, yang dibuat berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi. Hasil sensus tahun 1893 menunjukkan hilangnya sejumlah golongan etnis yang sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab dan Moor, orang Bali, Jawa, Sunda, orang Sulawesi Selatan, orang Sumbawa, orang Ambon dan Banda, dan orang Melayu. Kemungkinan kesemua suku bangsa Nusantara dan Arab Moor ini dikategorikan ke dalam kesatuan penduduk pribumi (Belanda: inlander) di Batavia yang kemudian terserap ke dalam kelompok etnis Betawi.
Suku Betawi
Pada tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia waktu itu.
Antropolog Universitas Indonesia lainnya, Prof Dr Parsudi Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong.
Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.
Ada juga yang berpendapat bahwa orang Betawi tidak hanya mencakup masyarakat campuran dalam benteng Batavia yang dibangun oleh Belanda tapi juga mencakup penduduk di luar benteng tersebut yang disebut masyarakat proto Betawi. Penduduk lokal di luar benteng Batavia tersebut sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.
Setelah kemerdekaan
Sejak akhir abad yang lalu dan khususnya setelah kemerdekaan (1945), Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi — dalam arti apapun juga — tinggal sebagai minoritas. Pada tahun 1961, 'suku' Betawi mencakup kurang lebih 22,9 persen dari antara 2,9 juta penduduk Jakarta pada waktu itu. Mereka semakin terdesak ke pinggiran, bahkan ramai-ramai digusur dan tergusur ke luar Jakarta. Proses asimilasi dari berbagai suku yang ada di Indonesia hingga kini terus berlangsung dan melalui proses panjang itu pulalah ’suku’ Betawi hadir di bumi Nusantara.
Seni dan kebudayaan
Budaya Betawi merupakan budaya mestizo, atau sebuah campuran budaya dari beragam etnis. Sejak zaman Hindia Belanda, Batavia (kini Jakarta) merupakan ibu kota Hindia Belanda yang menarik pendatang dari dalam dan luar Nusantara. Suku-suku yang mendiami Jakarta antara lain, Jawa, Sunda, Minang, Batak, dan Bugis. Selain dari penduduk Nusantara, budaya Betawi juga banyak menyerap dari budaya luar, seperti budaya Arab, Tiongkok, India, dan Portugis.
Suku Betawi sebagai penduduk asli Jakarta agak tersingkirkan oleh penduduk pendatang. Mereka keluar dari Jakarta dan pindah ke wilayah-wilayah yang ada di provinsi Jawa Barat dan provinsi Banten. Budaya Betawi pun tersingkirkan oleh budaya lain baik dari Indonesia maupun budaya barat. Untuk melestarikan budaya Betawi, didirikanlah cagar budaya di Situ Babakan.
Bahasa
Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing.
Ada juga yang berpendapat bahwa suku bangsa yang mendiami daerah sekitar Batavia juga dikelompokkan sebagai suku Betawi awal (proto Betawi). Menurut sejarah, Kerajaan Tarumanagara, yang berpusat di Sundapura atau Sunda Kalapa, pernah diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Oleh karena itu, tidak heran kalau etnis Sunda di pelabuhan Sunda Kalapa, jauh sebelum Sumpah Pemuda, sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.
Karena perbedaan bahasa yang digunakan tersebut maka pada awal abad ke-20, Belanda menganggap orang yang tinggal di sekitar Batavia sebagai etnis yang berbeda dengan etnis Sunda dan menyebutnya sebagai etnis Betawi (kata turunan dari Batavia). Walau demikian, masih banyak nama daerah dan nama sungai yang masih tetap dipertahankan dalam bahasa Sunda seperti kata Ancol, Pancoran, Cilandak, Ciliwung, Cideng (yang berasal dari Cihideung dan kemudian berubah menjadi Cideung dan tearkhir menjadi Cideng), dan lain-lain yang masih sesuai dengan penamaan yang digambarkan dalam naskah kuno Bujangga Manik[3] yang saat ini disimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris.
Meskipun bahasa formal yang digunakan di Jakarta adalah Bahasa Indonesia, bahasa informal atau bahasa percakapan sehari-hari adalah Bahasa Indonesia dialek Betawi. Dialek Betawi sendiri terbagi atas dua jenis, yaitu dialek Betawi tengah dan dialek Betawi pinggir. Dialek Betawi tengah umumnya berbunyi "é" sedangkan dialek Betawi pinggir adalah "a". Dialek Betawi pusat atau tengah seringkali dianggap sebagai dialek Betawi sejati, karena berasal dari tempat bermulanya kota Jakarta, yakni daerah perkampungan Betawi di sekitar Jakarta Kota, Sawah Besar, Tugu, Cilincing, Kemayoran, Senen, Kramat, hingga batas paling selatan di Meester (Jatinegara). Dialek Betawi pinggiran mulai dari Jatinegara ke Selatan, Condet, Jagakarsa, Depok, Rawa Belong, Ciputat hingga ke pinggir selatan hingga Jawa Barat. Contoh penutur dialek Betawi tengah adalah Benyamin S., Ida Royani dan Aminah Cendrakasih, karena mereka memang berasal dari daerah Kemayoran dan Kramat Sentiong. Sedangkan contoh penutur dialek Betawi pinggiran adalah Mandra dan Pak Tile. Contoh paling jelas adalah saat mereka mengucapkan kenape/kenapa'' (mengapa). Dialek Betawi tengah jelas menyebutkan "é", sedangkan Betawi pinggir bernada "a" keras mati seperti "ain" mati dalam cara baca mengaji Al Quran.
Musik
Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tionghoa, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab, dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an. Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni Lenong, Gambang Kromong, Rebana Tanjidor dan Keroncong. Betawi juga memiliki lagu tradisional seperti "Kicir-kicir".
Tari
Seni tari di Jakarta merupakan perpaduan antara unsur-unsur budaya masyarakat yang ada di dalamnya. Contohnya tari Topeng Betawi, Yapong yang dipengaruhi tari Jaipong Sunda, Cokek dan lain-lain. Pada awalnya, seni tari di Jakarta memiliki pengaruh Sunda dan Tiongkok, seperti tari Yapong dengan kostum penari khas pemain Opera Beijing. Namun Jakarta dapat dinamakan daerah yang paling dinamis. Selain seni tari lama juga muncul seni tari dengan gaya dan koreografi yang dinamis.
Drama
Drama tradisional Betawi antara lain Lenong dan Tonil. Pementasan lakon tradisional ini biasanya menggambarkan kehidupan sehari-hari rakyat Betawi, dengan diselingi lagu, pantun, lawak, dan lelucon jenaka. Kadang-kadang pemeran lenong dapat berinteraksi langsung dengan penonton.
Cerita rakyat
Cerita rakyat yang berkembang di Jakarta selain cerita rakyat yang sudah dikenal seperti Si Pitung, juga dikenal cerita rakyat lain seperti serial Jagoan Tulen atau si jampang yang mengisahkan jawara-jawara Betawi baik dalam perjuangan maupun kehidupannya yang dikenal "keras". Selain mengisahkan jawara atau pendekar dunia persilatan, juga dikenal cerita Nyai Dasima yang menggambarkan kehidupan zaman kolonial. creita lainnya ialah Mirah dari Marunda, Murtado Macan Kemayoran, Juragan Boing dan yang lainnya.
Senjata tradisional
Senjata khas Jakarta adalah bendo atau golok yang bersarungkan terbuat dari kayu.
Kepercayaan
Sebagian besar Orang Betawi menganut agama Islam, tetapi yang menganut agama Kristen; Protestan dan Katolik juga ada namun hanya sedikit sekali. Di antara suku Betawi yang beragama Kristen, ada yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis. Hal ini wajar karena pada awal abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda mengadakan perjanjian dengan Portugis yang membolehkan Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kalapa sehingga terbentuk komunitas Portugis di Sunda Kalapa. Komunitas Portugis ini sekarang masih ada dan menetap di daerah Kampung Tugu, Jakarta Utara.
Profesi
Di Jakarta, orang Betawi sebelum era pembangunan orde baru, terbagi atas beberapa profesi menurut lingkup wilayah (kampung) mereka masing-masing. Semisal di kampung Kemanggisan dan sekitaran Rawabelong banyak dijumpai para petani kembang (anggrek, kemboja jepang, dan lain-lain). Dan secara umum banyak menjadi guru, pengajar, dan pendidik semisal K.H. Djunaedi, K.H. Suit, dll. Profesi pedagang, pembatik juga banyak dilakoni oleh kaum betawi. Petani dan pekebun juga umum dilakoni oleh warga Kemanggisan.
Kampung yang sekarang lebih dikenal dengan Kuningan adalah tempat para peternak sapi perah. Kampung Kemandoran di mana tanah tidak sesubur Kemanggisan. Mandor, bek, jagoan silat banyak di jumpai disana semisal Ji'ih teman seperjuangan Pitung dari Rawabelong. Di kampung Paseban banyak warga adalah kaum pekerja kantoran sejak zaman Belanda dulu, meski kemampuan pencak silat mereka juga tidak diragukan. Guru, pengajar, ustadz, dan profesi pedagang eceran juga kerap dilakoni.
Warga Tebet aslinya adalah orang-orang Betawi gusuran Senayan, karena saat itu program Ganefo yang dicetuskan oleh Bung Karno menyebabkan warga Betawi eksodus ke Tebet dan sekitarnya untuk "terpaksa" memuluskan pembuatan kompleks olahraga Gelora Bung Karno yang kita kenal sekarang ini. Karena asal-muasal bentukan etnis mereka adalah multikultur (orang Nusantara, Tionghoa, India, Arab, Belanda, Portugis, dan lain-lain), profesi masing-masing kaum disesuaikan pada cara pandang bentukan etnis dan bauran etnis dasar masing-masing.
Perilaku dan sifat
Asumsi kebanyakan orang tentang masyarakat Betawi ini jarang yang berhasil, baik dalam segi ekonomi, pendidikan, dan teknologi. Padahal tidak sedikit orang Betawi yang berhasil. Beberapa dari mereka adalah Muhammad Husni Thamrin, Benyamin Sueb, dan Fauzi Bowo yang menjadi Gubernur Jakarta saat ini .
Ada beberapa hal yang positif dari Betawi antara lain jiwa sosial mereka sangat tinggi, walaupun kadang-kadang dalam beberapa hal terlalu berlebih dan cenderung tendensius. Orang Betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama yang tercermin dari ajaran orangtua (terutama yang beragama Islam), kepada anak-anaknya. Masyarakat Betawi sangat menghargai pluralisme. Hal ini terlihat dengan hubungan yang baik antara masyarakat Betawi dan pendatang dari luar Jakarta.
Orang Betawi sangat menghormati budaya yang mereka warisi. Terbukti dari perilaku kebanyakan warga yang mesih memainkan lakon atau kebudayaan yang diwariskan dari masa ke masa seperti lenong, ondel-ondel, gambang kromong, dan lain-lain.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan sebagian besar masyarakat Betawi masa kini agak terpinggirkan oleh modernisasi di lahan lahirnya sendiri (baca : Jakarta). Namun tetap ada optimisme dari masyarakat Betawi generasi mendatang yang justru akan menopang modernisasi tersebut.

Jumat, 09 Mei 2014

IBUNDA

         
Dihadapanku hamparan hijau membentang, dikelilingi oleh gunung gunung. Sesuatu bergerak dikejauhan, kadang terlihat kadang tidak karena terhalang oleh pepohonan dan semak semak yang terhampar.
Aku berdiri dibibir jurang, mataku menyasar kebawah jurang sejauh yang dapat kulihat. Entah dari mana.. tiba tiba menyeruak seseorang dari balik rimbunan pohon tak jauh dari ku berpijak. Ternyata seorang perempuan tua dengan tumpukan ranting kayu dipunggungnya. Senyum polos ketika melihatku melewati jalan setapak tak jauh dari tempatku berdiri, akupun membalas senyumannya "Permisi" demikian ucapnya, aku manggut manggut.

Sambil duduk ditepi jurang dengan kaki menjuntai aku terus dibayangi oleh raut wajah perempuan yang lewat tadi.  Wajah yang bersih dengan kerut ketuaan, tak terlihat tanda tanda kelelahan diwajahnya walau telah menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk mencari kayu bakar.
Wajah itu mengingatkan akan sosok ibu, seorang perempuan yang tak pernah bersedih ataupun mengeluh dihadapan anaknya. Perempuan yang terlahir dalam serba kekurangan, tumbuh dan dewasa dalam kesederhanaan,  Perempuan desa yang sederhana, tapi berfikir dan bertindak tidak sesederhana apa yang terlihat didirinya. Diantara mereka ada juga yang buta huruf dan jauh dari kecukupan, namun tak pernah menyerah untuk mengantarkan anak anaknya menjadi labih baik. Perempuan desa yang tegar adalah contoh kecil kegigihan seorang perempuan dengan naluri keIBUannya yang rela berkorban apa saja untuk kebahagiaan belahan jiwanya.

> Laksana ibunda Nabi Musa As. yang melepas bayinya ke sungai nil, agar terhindar dari tentara Firaun yang akan membunuh setiap bayi laki laki.
> Laksana ibunda Nabi Ismail As. dalam ketidakpastian tetap berusaha tanpa putus asa mencari air untuk bayinya yang kehausan, sementara tubuhnya lemah tak bisa lagi mengeluarkan air susu untuk sang bayi. Tapi kekuatan jiwanya mengalahkan kelemahan fisiknya untuk menyelamatkan belahan jiwanya.
> Laksana kisah seorang ibu yang merebus batu (seolah sedang masak) karena tak ada makanan, sekedar untuk mendiamkan tangis sang anak yang dilanda lapar.

Ibu... berbulan bulan dengan keringat dan lelah bahkan dengan nyawa engkau jaga bayi dikandunganmu, demi si buah hati belahan jiwa  
Sa`at anak-anakmu satu persatu meninggalkanmu, engkau hanya senyum sa`at melihat cucumu  
Anakmu merengek, berbuat salah, meresahkan,  Engkau tetap beharap esok akan menjadi baik.
Sa`at engkau sedikit ingin ditemani anakmu, mereka sibuk
Sa`at engkau ingin mendengar cerita anakmu, mereka curhat pada yang lain  
Ibu... ketika suami dan anakmu ingin makan engkau menyiapkannya, ketika diantara mereka ada yang sakit, engkau merawat dan mencarikannya obat. Sementara ketika engkau ingin makan, engkau menyiapkan makanan sendiri dan ketika engkau sakit engkau mencari obat sendiri bahkan berobat sendiri.
Ketika dilanda kesulitan hidup engkau hanya merintih dalam hati. engkau tersenyum dihadapan suami dan anakmu seolah berkata bahwa hari esok masih ada harapan.
Dengan Senyummu angkara murka menjadi luluh
Dengan Do`a dan Kesungguhanmu Allah turunkan RahmatNya atas anak manusia
Dihadapan keluargamu engkau tak akan menampakkan kelemahan walaupun sekujur tubuhmu dilanda kelelahan dan kepenatan. Bahkan terkadang engkau harus bertahan sampai hancur, laksana tulang rusuk yang dipaksa lurus.

Selasa, 06 Mei 2014

"DIALOG USTADZ LURUS DENGAN PEMUJA SETAN"

"DIALOG USTADZ DENGAN PEMUJA SETAN"

USTANDZ LURUS = UL
PENGGUNA JIN (PEMUJA SETAN)= PJ

PJ =Assalamua`alaikum Pak Ustadz
UL =Waalaikum salam Wr Wb. silahkan .....
kalau boleh tau bpk siapa yah ? seperti baru lihat nih ?
PJ = O..iya ma`af pak Ustadz nama saya Lanang, memang saya baru kesini mao minta tolong, kata orang2 pak ustandz bisa menolong.
UL =Tolong apa ? 
PJ = Begini pak Ustadz, bulan purnama depan saya mau tarung Ilmu Santet. Dalam hitungan sih... saya bakalan menang. tapi biar lebih yakin saya minta dijagain lagi, gitu pak ustadz.
UL = Hmm ma`af saya ga bisa apa2 (pelan), cari tempat lain aja dah, benar.. saya enggak bisa yang begitu2an.
PJ = Tolong dong pak ustadz.. (sambil merunduk sungkem, tapi segera ditolak).
UL = Udah deh, ma`af saja saya bener2 enggak bisa, kamu paksa kayak apapun saya enggak bisa. Tapi kalau boleh tahu, apa sih tujuan kamu bermain-main seperti itu.
PJ = Supaya dibilang kuat, pak ustadz
UL = Setelah itu..
PJ = Mungkin bangga.. Pak ustadz
UL = Terus apa lagi ?
PJ = Apa ya....? pokoknya gitulah pak Ustadz.
UL = Gitu gimana ? Ya..sudah.. kamu kan sudah punya kehebatan ngapain juga kemari buang2 waktu. minta sama saya yg enggak punya kehebatan macam kamu. maaf aja yah.
PJ = Begini pak ustadz... kalau memang pak ustadz seperti itu, tolong hilangkan saja  ilmu santet yg sudah saya pelajari.
UL = Lho kok gitu ! malah ngambek, kamu sudah belajar Santet berapa tahun ? mungkin sudah lama ? 
PJ = 10 tahun lebih pak ustadz, terus terang sebenernya saya sudah lelah
tapi kalau saya berhenti gengsi dong, jadi bulan2an musuh2 saya.
UL = Oo.. gitu, tapi kok kamu minta dihilangkan ? kenapa juga mau dihilangkan? kamu sudah korban waktu, tenaga bahkan biaya yang tidak sedikit. tapi kalau kamu memang niat mau membuang ilmu santet dari diri kamu, itu mudah.           
PJ = Bener pak ustadz ? (dg suara sedikit meninggi campur senang)waduh paaak, sampai sekarang saya harus menyiapkan biaya untuk minyak2 dari yang harganya ratusan ribu sampai jutaan, belum lagi waktu saya hampir separuh hari buat ngurus Jin-jin tersebut. Kira kira berapa bulan pak ustadz ?
UL = Cukup satu Minggu paling lama, Ilmu Santet kamu hilang. Sekarang kamu pulang dulu, merenung dulu, persiapkan diri dan pikirkan matang2 yah.., minum dulu airnya tuh.
PJ = Iya.. terima kasih (meraih cangkir... glek glek, sambil bingung), 
UL = Kalau kamu sudah mantab, besok kemari lagi
PJ = iya pak ustadz terima kasih, pamit dulu ..Assalamualaikum
UL = Waalaikum salam Wr Wb.

(Esok hari)

PJ= Assalamu`alakum Pak ustadz
UL=Wa`alaikumsalam Wr Wb.....? mas Lanang ya ? gimana ?
PJ=Saya siap Pak Ustadz
UL=Siap bagaimana ?
PJ=Saya mau hilangkan semua ilmu santet yang ada disaya.
UL=Alhamdulillah kalau mas lanang sudah mantab

(setelah bincang2 sejenak)
UL= Mass Lanang percaya sama Allah ?
PJ=Percaya pak Ustadz, kan saya juga sholat, ngaji juga bisa
UL=Menurut mas Lanang, Allah siapa ?
PJ= Tuhan Yang Maha Esa.
UL=Trus apa lagi ?
PJ=Maha Kuasa, Maha Pencipta, Maha Pengasih, Maha Penyayang
pokoknya banyak pak ustadz.
UL=Semua yang mas Lanang sebutin bener, jadi manusia seperti saya, mas Lanang, musuh mas Lanang, semua manusia ciptaan Allah bukan ?
PJ= Ciptaan Allah 
UL=Malaikat dan Jin ciptaan siapa ?
PJ=Allah juga pak ustadz.
UL=Jika demikian manusia dan jin sama sama makhluk ciptaan Allah, kenapa manusia merasa lebih hebat atau harus tunduk terhadap makhluk lain sehingga sesama makhluk ada yg ingin dipuja puja atau menghambakan diri kepada makhluk lainnya.
PJ= Astagfirullah..Pak ustadz. saya harus bagaimana dong? sementara musuh saya terus menyerang kalau tak dilawan bagaimana?
UL=Karena Allah yang menciptakan kita, Allah  pula yang dapat melindungi kita dari makhluk makhluk ciptannya. kita terima apapun yang diberikan oleh Allah, karena kita tidak mempunyai daya upaya apa apa selain dengan izinnya. Dengan berserah dihadapan Allah, hati kita akan tenang. sehebat apapun ilmu manusia atau jin dihadapan Allah tak berarti apa-apa. 
PJ= Kok bisa begitu pak ustadz ?
UL= Karena Allah yang menciptakan kita,  kaaan ? lalu apa yang Allah tidak tahu apa yang ada didalam diri makhluknya ? Apa tidak malu kita sebagai makhluk Allah membanggakan merasa lebih hebat dari makhluk lainnya?  Sekarang kembali pada keinginan kamu untuk membuang ilmu santet yang kamu pelajari, kamu cukup hanya berserah diri dihadapan Allah mohon perlindunganNya, jika sudah begitu.. Apakah Allah akan diam saja kalau ada makhluk ciptaannya berserah diri sambil memohon perlindungan? juga sudah sepantasnya kita meminta sesuatu kepada yang menciptakan kita dan bukan kepada sesama makhluk. Sebagai perbandingan apakah kita akan mendiamkan anak kita yang memohon perlindungan dari kita? apakah kita akan membiarkan benda kesayangan tanpa dirawat?, Begitu juga Allah, akan menyongsong hambanya yang meminta padaNya dan akan menjagaNya sepanjang waktu bagi makhluknya yang meminta PerlindunganNya. Saya rasa cukup segitu aja. mudah-mudahan bisa dipahami.
PJ=InsyaAllah pak ustadz. lalu kapan saya mulai belajarnya untuk melepas ilmu santet yang ada didiri saya dan menolak santet dari musuh saya?

UL=Sekarang kamu pulang (sementara PJ bingung), nanti sampe dirumah buang semua benda benda yang menjadi perantara jin-jin peliharaanmu, Jika kamu diserang oleh musuhmu pasrahkan dirimu pada yang menciptakannmu dan jangan berkeinginan untuk membalas. InsyaAllah jika mas Lanang ikhlas melakukannya, dalam jangka satu minggu akan terasa perbedaannya.

PJ=Terima kasih pak ustadz (tambah bingung karena tak ada benda atau sebaris mantera yg diberikan dari pak ustadz 

SINGKAT CERITA :
Sesampainya dirumah,  pak lanang langsung melakukan apa yang disarankan  Ustadz Lurus. seperti minyak jin, keris, batu mulia, dan benda lain untuk praktek santet dibuang ke Got / saluran air belakang rumahnya.

Malam pertama setelah dialog dengan pak ustadz, seperti biasa pak lanang mendapat serangan santet dari musuhnya (biasanya terjadi pertarungan), tapi malam itu pak lanang tidakl melakukan apapun, selain ucapan penyerahan diri dan ketidakberdayaannya yang disampaikan kepada Allah yang menciptakannya. alhasil malam itu tidak terjadi perng santet.
Malam keduapun begitu, serangan datang lebih bringas lagi, bahkan mengancam akan menghabisi keluarganya jika pak lanang tak mau bertarung. benar saja tak lama kemudia suara anak dan istrinya terdengar karena diganggu. pak lanang sedikit goyah.., tapi ia sudah mantab bahwa Allah akan melindunginya. dan apa yang terjadi dengan anak dan istri ia sudah tahu sekedar trik syetan untuk menggoyahkan hati manusia. malam itu berlalu sebagaimana malam pertama.            
Malam ketiga... pak lanang dan keluarga sama sama bersimpuh berserah diri pada Allah, berjaga jaga dari serangan santet. tapi sampai larut malam dan tanpa terasa mereka tertidur pulas sampai waktu subuh (menurut pak lanang suatu pengalaman baru selama 10 tahun ia hampir tak pernah tidur malam hari, karena bermain-main dengan jin).
Malam keempat pak lanang bermimpi didatangi jin-jin peliharaannya, mereka marah-marah dan mengejek kalau pak lanang telah memcampakan mereka begitu saja juga ancaman tehadap keluarga  jika pak lanang menyia-nyiakan mereka, tapi pak lanang tidak menanggapi.
Malam kelima sama seperti malam ketiga tak terjadi apa apa.
Keesokan harinya setelah menelepon, pak lanang datang ke rumah pak ustadz lurus. diceritakan semua kejadian yang dialami kepada pak ustadz.

JAWABAN USTADZ LURUS
Alhamdulillah apa yang mas lanang niatkan disertai ikhtiar telah Allah kabulkan, InsyaAllah dengan keinginan yang tulus semua terjadi dengan lancar tanpa insiden sedikitpun. pak lanang menyela "Tapi kok bisa semudah itu pak ustadz ?"
Begini mas lanang... apa yang bisa diperbuat oleh makhluk jika seorang hamba sudah berserah pada yang menciptakannya Yang Maha Gagah juga Maha Perkasa. karena syetan tidak akan mampu berbuat apa apa terhadap orang yang sudah berserah pada Allah Subhanahuwataala. namun syetan syetan akan selalu mencoba membisikan ketakutan ketakutan yang akan menimpa seseorang bahkan mengancam keluarga agar seseorang ciut hatinya. syetan itu semakin 
semakin kita mendekat pada Allah semakin keraslah godaan mereka. para syetan tidak akan akan mundur oleh penampilan manusia mereka akan mencari celah dari manapun mereka bisa menggelincirkan manusia dan jin dari dalam kesesatan. syetan hanya takut pada mereka yang bersih hatinya dan hanya ada Allah didalamnya. Makanya jangan heran kalau ada orang-orang yang mengerti agama (dengan segala sebutan), tapi perbuatannya jauh dari ajaran agama.
Menurut syetan, para munafikin dan pelaku maksiat menggoda mereka adalah pekerjaan ringan, tanpa digodapun mereka sudah sesat.
Demikian Nasehat yang disampaikan Ustadz Lurus kepada Pak Lanang.

Dengan haru dan rasa syukur yang dalam pada Allah Swt. dan dengan arahan Ustadz Lurus, pak lanang sangat  berterima kasih sekali. ia tidak menyangka hanya dengan keinginan yang tulus dan berpasrah pada Allah Swt. ia merasa sudah sembuh dari penyakit hati (sombong, takabur, ujub)  yang ia derita selama ini dan tanpa biaya sepeserpun. Maha Suci Allah.

Ini adalah kisah nyata yg dituturkan pada penulis dan sengaja bukan nama sebenarnya
Kisah ini menarik, karena berbeda dari pengalaman  orang orang yang ingin bebas dari beban ilmu santet/ilmu hitam
InsyaAllah dapat kita jadikan instropeksi apakah kita sudah berserah pada Allah Swt.

Kamis, 03 April 2014

CABE2an menjadi LUCU2an


CABE2an/GREMPANG/PEREK/BADAK dan istilah lainnya hanyalah kata yang diplesetkan,
awalnya hanya gadis2 belia yang ingin eksis di lingkungan sebayanya yang TIDAK BEGITU MEMENTINGKAN MATERI, mereka HANYA MENGEJAR KESENANGAN.
Bahkan dengan berseloroh kita katakan mereka bisa diajak kencan dengan hanya sebungkus gado-gado, yang penting sama-sama asik.

Cabe2an denga ciri2 awal  Jins belel separuh paha, nangkring dimotor sambil cekakak cekikik gak jelas,
bertigaan, berseliweran ngabisin bensin, atau menuju tempat tongkrongan sekaligus mejeng.  
Istilah-istilahpun keluar sesuai zamannya dan hanya antar mereka yang tahu apa maksud istilah tersebut.
Menjadi lebih bermasalah, ketika diantara mereka yang berperilaku sama mempunyai tujuan berbeda yakni
(mengejar materi semata). Mirisnya sekarang ini banyak diantara mereka yang berada dalam usia sekolah dan sambil bersekolah pula menjadi CABE benaran (kalau tak ingin disebut Pe eS Ka).

Maraknya penomena Cabe2an ABG, disebabkan  oleh gencarnya godaan untuk menjadi anak gaul
yang dibalut oleh benda2 atau gaya hidup yang mungkin menurut mereka melambangkan keGAULan
(mulai dari Gatget, Busana, Sepatu, Gaya Rambut, Karaokean, Bersantap di Cafe dst-dst)
Mereka yang tak mampu bertahan dengan godaan akan terbawa kealam mimpi yang harus terwujud
akhirnya sifat HEDONISME (berperilaku serba boleh) untuk mendapatkan yang diinginkanpun dilakukan.
Mereka akan melakukan apa saja asalkan yang diimpikan terwujud, salah satunya menjadi CABE Beneran.
Cerita seperti ini akan terus ada  dengan istilah yang berbeda atau akan mengalami siklus istilah.

Sebenarnya Perilaku Menyimpang yang disebut dengan Cabe-cabean dan sejenisnya merupakan cabang dari perilaku SEX BEBAS/FREE SEX yang bertujuan kesenangan semata.Yang menyedihkan istilah Cabe-Cabean yang dibuat Guyonon oleh media atau lingkungan pergaulan bukan lagi menjadi hal yang memalukan, gadis2 ABG dipanggil "Cabe" tidak akan marah apalagi mengamuk paling-paling hanya senyum atau malah balik mengolok-olok " Lu Tuh Yang Terong" atau "Lu tuh Yang Cabe". Secara Psikologis Situasi tersebut memberi kenyamanan para penjaja sex ABG, karena tak ada penolakan terhadap Cabe2an, bahkan terkesan sebagai profesi yang menjanjikan.

Cabe Beneran atau Pekerja Sex Komersial dan sejenisnya, sekarang digeneralisir menjadi cabe2an.
sementara cabe2an seolah-olah bukan perbuatan menyimpang. bahkan CABE2an terkesan LUCU2an