Google+ Badge

Jumat, 09 Mei 2014

IBUNDA

         
Dihadapanku hamparan hijau membentang, dikelilingi oleh gunung gunung. Sesuatu bergerak dikejauhan, kadang terlihat kadang tidak karena terhalang oleh pepohonan dan semak semak yang terhampar.
Aku berdiri dibibir jurang, mataku menyasar kebawah jurang sejauh yang dapat kulihat. Entah dari mana.. tiba tiba menyeruak seseorang dari balik rimbunan pohon tak jauh dari ku berpijak. Ternyata seorang perempuan tua dengan tumpukan ranting kayu dipunggungnya. Senyum polos ketika melihatku melewati jalan setapak tak jauh dari tempatku berdiri, akupun membalas senyumannya "Permisi" demikian ucapnya, aku manggut manggut.

Sambil duduk ditepi jurang dengan kaki menjuntai aku terus dibayangi oleh raut wajah perempuan yang lewat tadi.  Wajah yang bersih dengan kerut ketuaan, tak terlihat tanda tanda kelelahan diwajahnya walau telah menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk mencari kayu bakar.
Wajah itu mengingatkan akan sosok ibu, seorang perempuan yang tak pernah bersedih ataupun mengeluh dihadapan anaknya. Perempuan yang terlahir dalam serba kekurangan, tumbuh dan dewasa dalam kesederhanaan,  Perempuan desa yang sederhana, tapi berfikir dan bertindak tidak sesederhana apa yang terlihat didirinya. Diantara mereka ada juga yang buta huruf dan jauh dari kecukupan, namun tak pernah menyerah untuk mengantarkan anak anaknya menjadi labih baik. Perempuan desa yang tegar adalah contoh kecil kegigihan seorang perempuan dengan naluri keIBUannya yang rela berkorban apa saja untuk kebahagiaan belahan jiwanya.

> Laksana ibunda Nabi Musa As. yang melepas bayinya ke sungai nil, agar terhindar dari tentara Firaun yang akan membunuh setiap bayi laki laki.
> Laksana ibunda Nabi Ismail As. dalam ketidakpastian tetap berusaha tanpa putus asa mencari air untuk bayinya yang kehausan, sementara tubuhnya lemah tak bisa lagi mengeluarkan air susu untuk sang bayi. Tapi kekuatan jiwanya mengalahkan kelemahan fisiknya untuk menyelamatkan belahan jiwanya.
> Laksana kisah seorang ibu yang merebus batu (seolah sedang masak) karena tak ada makanan, sekedar untuk mendiamkan tangis sang anak yang dilanda lapar.

Ibu... berbulan bulan dengan keringat dan lelah bahkan dengan nyawa engkau jaga bayi dikandunganmu, demi si buah hati belahan jiwa  
Sa`at anak-anakmu satu persatu meninggalkanmu, engkau hanya senyum sa`at melihat cucumu  
Anakmu merengek, berbuat salah, meresahkan,  Engkau tetap beharap esok akan menjadi baik.
Sa`at engkau sedikit ingin ditemani anakmu, mereka sibuk
Sa`at engkau ingin mendengar cerita anakmu, mereka curhat pada yang lain  
Ibu... ketika suami dan anakmu ingin makan engkau menyiapkannya, ketika diantara mereka ada yang sakit, engkau merawat dan mencarikannya obat. Sementara ketika engkau ingin makan, engkau menyiapkan makanan sendiri dan ketika engkau sakit engkau mencari obat sendiri bahkan berobat sendiri.
Ketika dilanda kesulitan hidup engkau hanya merintih dalam hati. engkau tersenyum dihadapan suami dan anakmu seolah berkata bahwa hari esok masih ada harapan.
Dengan Senyummu angkara murka menjadi luluh
Dengan Do`a dan Kesungguhanmu Allah turunkan RahmatNya atas anak manusia
Dihadapan keluargamu engkau tak akan menampakkan kelemahan walaupun sekujur tubuhmu dilanda kelelahan dan kepenatan. Bahkan terkadang engkau harus bertahan sampai hancur, laksana tulang rusuk yang dipaksa lurus.